Minggu, 26 Juli 2015

JUAL BELI DALAM ISLAM


     BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Jual beli adalah proses pemindahan hak\milik barang atau harta kepada
pihak lain dengan menggunakan uang sebagai alat tukarnya.Menurut etimologi ,
jual beli adalah pertukaran seatu dengan sesuatu (yang lain) kata lain dari jual beli adalah a-bali,asy-syira,al-mubadah dan At-tijarah.
Landasan atau dasar hukum mengenai jual beli ini disyariatkan berdasarkan
al-Qur’an,hadist nabi,dan ijma.Hukum jual beli pada dasarnya diperbolehkan oleh
aturan islam.Kebolehan ini didasarkan firman Allah yang terjemahkan sebagai berikut:
Janganlah kamu memakan harta diantara kamu dan jalan batal melainkan    
dengan jual beli suka sama suka.”(QS.An-nisa:29)
Rukun dan syarat jual beli dalah ketentuan-ketentuan dalam jual beli yang
harus dipenuhi agar jual belinya sah menurut syara(Hukum islam).
·         Dua pihak membuwat akad penbeli dan penjual
·         Objek akad barang dan harga
·         Ijab qabul (perjaian dan pesetuan)
Baran-barang yang terlarang diperjual belikan adalah,barang yang haram di
makan,khamar,buah-buahann yang dapat dimakan,air,barang-barang yang samar
dan barang-barang dapat dijadikan sarana ma’syiat.
B.     Tujuan
1.      Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dan dasar hukum jual beli
2.      Mahasiswa dapat mengetahui barang yang terlarang diperjual bekikan
3.      Mahasiswa dapat mengetahui rukun dan syarat jual beli 


  




BAB 11
PEMBAHASAN
A.    Pengertian jual beli
            Jual beli adalah proses pemindahan hak milik barang atau harta kepada
pihak lain dengan menggunakan uang sebagai alat tukarnya.
Menurut etimologi,jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang
 lain.Kata lain jual beli adalah al-ba’i,asy-syira,al-mubadah dan,at-tijarah menurut terminologi para ulama berbeda pendapat dalam mendifinisikanya antara lain:
1.      Menurut ulama hanafiah adalah pertukaran harta(benda dan harta berdasarkan cara    
khusus)yang diperbolehkan.
2.      Iman manawi dalam al-majmu jual beli adalah pertukaran harta dan benda untuk
kepemilikan.    
3.      Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-mugni:jual beli adalah pertukaran harta
dengan harta.untuk saling menjadikan milik.
B.     Aturan jual beli        
            Jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara
yang tentu (akad).
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)
            “Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil kecuali dengan jalan pernigaan yang berlaku suka sama suka di antara kamu.”An-Nisa:29)
C.    Rukun jual beli
1.      Penjual dan pembeli
syaratnya adalah:
a.       Berakal,agar dia tidak terkecoh.Orang yang gila atau bodoh tidak sah jual
belinya.
b.      Dengan kehendak sendiri (bukan dipaksa).
c.       Tidak mubazir (pemborosan),sebab harta orang yang mubazir itu ditangan walinya.
Firman Allah Swt.:
“Dan janganlah kamu serakan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya,harta(mereka yang ada dalam kekuasaanmu)yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupanmu,berilah mereka belanja.”(An-Nisa :5)
d.      Balig (berumur 15 ke atas/dewasa).Anak kecil tidak sah jual belinya.
2.      Uang dan benda yang dibeli
a.       Suci,barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan,seperti kulit binatang,atau bangkai yang belum disamak.
Sabda Rasullah Saw.:
Dari jabir bin Abdulah,Rasullah Saw.berkata,”sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan menjual arak dan bangkai,begitu juga babi dan berhala.”pendengar bertanya,”Bagaimana dengan lemak bangkai,ya Rasullah.  
Karena lemak itu berguna buat cat perahu,buat minyak kulit,dan minyak lampu.”Jawab beliau ,”Tidak boleh, semua itu haram,celakalah orang yahudi tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai,mereka hancurkan lemak itu sampai menjadi minyak,kemudian mereka jual minyaknya,lalu mereka makan uangnya.”(sepakat ahli hadis)
b.      Ada manfatnya.Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
“sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudara-saudara setan.”(Al-Isro :27)
c.       Barang itu dapat diserakan.Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapatdiserahkan kepada yang membeli,misalnya ikan dalam laut,barang rampasan yang masih berada ditangan yang merampasnya,barang yang sedang
barang yang sedang dijaminkan, sebab semua itu mengandung tipu daya(kecohan).
Dari Abu Hurairah.Ia berkata,”Nabi Saw.telah melarang memperjual belikan
barang yang mengandung tipu daya.”(Riwayat Muslim dan lain-lain)
d.      Barang tersebut merupakan kepunyaan si penjual,kepunyaan yang diwakilinya,atau yang mengusahakan.
Sabda Rasullah Saw.:
“Tidak sah jual beli selain mengenai barang yang dimilikinya.”(Riwat Abu Dawud dan Tirmizi)

e.       Barang tersebut diketahui oleh si penjual dan si pembeli,zat,betuk,kadar ( ukuran),dan sifat-sifatnya jelas sehingga antara keduanya tidak akan terjadi kecoh-mengecoh.
3.      Lafaz ijab dan kabul
Ijab adalah perkataan penjual,umpamanya,saya jual barang sekian.”
Kabul adalah ucapan si pembeli,”Saya terima (saya beli)dengan harga sekian.”
Sabda Rasullah Saw.:
“Sesungguhya jual beli hanya sah jika suka sama suka.”(Riwayat Ibnu Hibban)
            Menurut ulama yang mewajibkan lafaz,lafaz itu diwajibkan memenuhi
beberapa syarat:
a.       Keadan ijab dan kabul berhubungan
b.      Makna keduanya hendaklah mufakat (sama)walaupun lafaz keduanya berlainan.
c.       Keduanya tidak disangkutan dengan urusan yang lain.
d.      Tidak berwaktu,sebab jual beli berwaktu-seperti sebulan atau setahun tidak sah.
Jual beli yang tidak sah karena kurang rukun atau syarat :
1.      Di negri kita ini orang telah biasa melakukan pekerjaan mencampurkan hewan betina
dengan hewan jantan.
Dari jabir,”Sesungguhnya Nabi Saw.telah melarang mejual pejantan.”(Riwayat Muslim dan Nasai)
Sabda Rasullah Saw.:
Dari Abu Kabsyah,”Nabi Saw.telah bersabda ,’barang siapa yang mencampurkan
hewan jantan dengan betina, kemudian dengan percampuran itu mendapat anak,maka baginya ganjaran sebanyak tujuh puluh hewan.’ ”(Riwayat Ibnu Hisban,dan ia menyahikannya)
2.      Menjual suatu barang yang baru dibelinya sebelum diterima,karena miliknya belum sempurna.
Sabda Rasullah Saw.:
“janganlah engkau menjual sesuatu yang engkau beli sebelum engkau terima.”(Riwayat Ahmad dan Baihaqi)
3.      Menjual buah-buahan sebelum nyata pantas dimakan (dipetik),karena buah-buahan
yang masih kecil sering rusak atau busuk sebelum matang.
D.    Berapa jual beli yang sah,tetapi dilarang
Yang menjadi pokok sebab timbulnya larangan adalah
1.      Menyakiti si penjual,pembeli atau orang lain.,
2.      Menyempitkan gerakan pasaran.,
3.      Merusak ketentraman umum.
Jual beli yang dilarang
1.      Membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari pada harga pasar,sedangkan ia mengiginkan barang itu,tetapi semata-mata supaya orang lain tidak bisa membeli barang itu.
2.      Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar.
Dari Abu hurairah,”Rasullah Saw.telah bersabda,janganlah diantara kamu menjual sesuatu yang sudah dibeli oleh orang lain.,”(sepakat ahli hadis)
3.      Mencegat orang-orang yang datang dari desa diluar kota lalu membeli barangnya sebelum mereka sampai kepasar dan sewaktu mereka mengetahui harga pasar.
Sabda Rasullah Saw.:
Dari ibnu Abbas,”Rasullah Saw.bersabda,jangalah kamu mepercepat orang –orang yang akan kepasar dijalan sebelum mereka sampai dipasar’.”(sepakat ahli hadis)
4.      Membeli barang untuk ditahan agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal,sedangkan masyarakat umum memerlukan barang itu.
     Sabda Rasullah Swt.:
Tidak ada orang yang menahan barang kecuali orang yang durhaka(salah).”(Riwayat Muslim)
5.       Menjual suatu barang yang berguna,tetapi kemudian dijadikan alat maksiat oleh yang membelinya.
     Sabda Rasullah Saw.:
Dan tolong- menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”(Al-Maidah:2)
6.      Jual beli yang disertai tipuan.
Dari Abu Hurairah,”Bawasannya Rasullah Saw.pernah melalui suatu onggokan makanan yang bakal dijual,lantas beliau memasukan tangan beliau kedalam onggokan itu,tiba-tiba didalamnya jari beliau meraba yang basah.Beliau keluarkan jari beliau yang basah itu seraya berkata,’Apakah ini.’Jawab yang punya makanan,’Basah karena hujan,ya Rasullah.’Beliau bersabda,’Mengapa tidak engkau taruh dibagian atas supaya dapat dilihat orang-orang.Barang siapa yang menipu maka ia bukan umatku.”(Riwayat Muslim)
E.     Khiyar
Khiyar artinya “boleh memilih antara dua ,meneruskan akad jual beli atau mengurungkan (menarik kembali,tidak jadi jual beli)”.
Khiyar ada 3 macam
1.      Khiyar majelis
Artinya si pembeli dan si penjual boleh memilih antara 2 perkara tadi selama ke duanya masih tetap berada ditempat jual beli.Khiyar majelis  diperbolehkan dalam  segala macam jual beli.
Sabda Rasullah Saw.:
“Dua orang yang berjual beli boleh memilih  (akan meneruskan jual beli mereka atau tidak) selama keduanya belum bercerai dari tempat akad.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
2.      Khiyar Syarat
Arti khiyar itu dijadikan syarat sewaktu akad oleh kedunya atau salah seorang seperti kata si penjual,” saya jual  barang ini dengan harga sekian dengan syarat khiyar dalam tiga hari atau kurang dari tiga hari.
Sabda Rasulullah Saw
engkau boleh khiyar pada segala barang yang telah engkau beli selama tiga hari tiga malam.”( Riwayat Baihaqi dan Ibnuh majah)
3.      Khiyar’aibi (cacat)
Artinya si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya apa bila pada barang itu terdapat suatu cacat yang mengurangi kualitas barang itu,atau mengurangi harganya sedangkan biasanya barang yang seperti itu baik.’ dan sewaktu akad cacatnya itu sudah ada tetapi si pembeli tidak tahu .’atau terjadi sesudah akad,yaitu sebelum diterimanya.
F.     Membatalkan jual beli
 Sabda Rasullah Sa. :
Abu Hurairah telah meceritakan hadis berikut ,bahwa Nabi Saw.telah bersabda,”
barang siapa yang mencabut  jual belinya terhadap orang yang menyesal,maka Allah akan mencabut kejatuhannya (kerugian dagangnya).”(Riwayat Bazzar)
G.    Hukum-hukum jual beli
1.      Mubah (boleh),merupakan asal hukum jual beli
2.      Wajib, umpamanya wali menjual harta anak yatim apabila terpaksa.,
3.      Haram,sebagaimana yang telah diterangkan pada rupa-rupa jual beli yang dilarang
4.      Sunat, misalnya jual beli kepada sahabat atau famili yang dikasihi, dan kepada orang yang sangat membutuhkan barang itu.
H.    Hikmah jual beli
·         Individu
-          Penjual
a.     Mendapat rahmat keberkatan dari Allah dengan mengikut apa yang telah di
syariatkan.
b.    Dapat berniaga dengan aman tanpa berlakunya khianat menghianati antara
satu sama lain.
-          Pembeli
a.     Berpuas hati diatas arus niaga yang dijalankan karena pernigaan menjalankan
karena perniagaan menjalankan urusan mengikuti syariat islam.
b.    Mendapat kerendahan dan rahmat dari Allah diatas urusan niaga yang
berlandaskan syariat Islam.
c.     Terhindar dari pada siksaan api neraka.
·         Masyarakat
a.     Menyenangkan manusia bertukar-tukar faedah harta dalam kehidupan sehari-
an.
b.      Dapat menarik pelabur asing untuk melabur dalam ekonomi negara.
c.       Menggalakan orang ramai supaya hidup berperaturan,bertimbang rasa,jujur,dan ikhlas.
·         Bernegara

a.     Meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara ketahap yang lebih baik.
b.    Dapat menarik pelabur asing untuk melabur demi ekonomi negara
c.     Menyalakan persaingan ekonomi yang sehat sesama negara Islam.



BAB 111
PENUTUP
Kesimpulan
Hukum jual beli pada dasarnya diperbolehkan oleh ajaran Islam.Kebolehan ini
didasarkan kepada firman Allah yang terjemahnya sebagai berikut:”Janganlah kamu memakan harta diantara kamu dengan jalan batal melainkan dengan jual beli suka- sama suka “(QS.An-Nisa:29)dan hadis Nabi Saw,yang artinya sebagai berikut:”Bawah Nabi SAW ditanya tentang,maka pencairian apakah paling baik?
Jawabanya:Seseorang yang bekerja dengan tanganya sendiri dan setiap jual beli yang ini sebagai salah satu usaha yang telah dipraktekan semenjak masa Nabi Saw hingga saat sekarang ini.

Untuk syahnya jual beli yang dilakukan diperlukan beberapa rukun syarat
yang harus dipenuhi yaitu penjual dan pembeli dengan syarat:
a.       Berakal ,bagi yang gila,bodoh,dan lainya tidak syah melakukan jual beli.
b.      Kehendak sendiri,bukan dipaksa.
c.       Keadaan tidak mubazir,(pemboros)orang pemboros hartanya dibawa wali.                                                                   
Barang-barang yang terlarang diperjual belikan keharaman menjual belikan
barang-barang tersebut didasarkan pada hadist Nabi Saw,yang artinya sebagai berikut.”dan sesungguhnya Allah,apabila mengharamkan makanan sesuatu kepada suatuh kaum,maka mengharamkan pula harganya.







DAFTAR PUSTAKA

RASJID,Sulaiman,Haji.Fiqih Islam.Bandung:Sinar baru algensindo.2010




Tidak ada komentar:

Posting Komentar