Selasa, 13 September 2016

KERANGKA BERFIKIR IRFANI Dasar-dasar Falsafi Ahwal dan Maqama





KERANGKA BERFIKIR IRFANI
Dasar-dasar Falsafi Ahwal dan Maqama

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Tinjauan analisis terhadap tasawuf menunjukkan upaya para sufi dengan berbagai aliran yang dianutnya, memiliki suatu konepsi tentang jalan (thariqat) menuju Allah SWT. Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah (riyadhah), lalu secara bertahap menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqam (tingkatan) dan hal (keadaan) dan terakhir denga mengenal (ma’rifat) kepada Allah SWT. Tingkat pengenalan (ma’rifat) menjadi jargon yang umumnya banyak dikejar oleh para sufi. Kerangka sifat dan perilaku sufi diwujudkan melalui amalan dan metode tertentu yang disebut thariqat atau jalan dalam menemukan pengenalan (ma’rifat) Allah SWT. Lingkup perjalanan menuju Allah SWT, untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku dikalangan sufi sering disebut sebagai kerangka ‘irfani.
Perjalanan menuju Allah SWT, merupakan metode pengenalan (ma’rifat) secara rasa (rohaniah) yang benar terhadap Allah SWT. Manusia tidak akan mengetahui banyak Penciptanya selama belum melakukan perjalanan menuju Allah SWT. Walaupun dia adalah aqliyah atau logis-teorotis (al-iman al-aqli an-nazhari) dan iman secara rasa (al-iman asy syu’uriadz-dzauqi)

B.     Rumusan Masalah
1.      Maqam-maqam dalam tasawuf
2.      Hal-hal yang dijumpai dalam perjalanan sufi
3.      Metode ‘irfani

C.    Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dasar-dasar falsafi ahwal dan maqam.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    MAQAM-MAQAM DALAM TASAWUF
Maqam yang dijalani oleh kaum sufi umumnya terdiri atas tobat, zuhud, faqr, sabar, syukur, rela, dan tawakal.
1.      Tobat
Kebanyakan sufi menjadikan tobat sebagai perhentian awal di jalan menuju Allah SWT. Pada tingkat terendah, tobat menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau anggota-anggota badan. Pada tingkat menengah, di samping dosa yang dilakukan jasad, tobat menyangkut pula pangkal dosa-dosa, seperti dengki, sombong, dan riya’. Pada tingkat yang lebih tinggi, tobat menyangkut usaha menjauhkan bujukan setan dan menyadarkan jiwa akan rasa bersalah. Adapun pada tingkat terakhir, tobat berarti penyesalan atas kelengahan pikiran dalam mengingat Allah SWT. Tobat pada tingkat ini adalah penolakan terhadap segala sesuatu selain yang dapat memalingkan dari jalan Allah SWT.
2.      Zuhud
Dilihat dari maksudnya, zuhud terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama (terendah), menjauhkan dunia ini agar terhindar dari hukuman di akhirat. Kedua, menjauhi dunia dengan menimbang imbalan di akirat. Ketiga (tertinggi), mengucilkan dunia bukan kerena takut atau karena berharap, tetapi karena cinta kepada Allah SWT. Orang berada pada tingkat tertinggi ini memandang segala sesuatu, kecuali Allah SWT. Tidak mempunyai arti apa-apa.
3.      Faqr
Faqr dapat berarti sebagai kekurangan harta yang di perlukan seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia. Sikap faqr penting di miliki orang yang berjalan menuju Allah SWT. Karena kekayaan atau kebanyakan harta memungkinkan manusia dekat pada kejahatan dan sekurang-kurangnya membuat jiwa menjadi tertambat pada selain Allah SWT.
4.      Sabar
Sabar, jika dipandang sebagai pengekangan tuntutan nafsu dan amarah, dinamakan Al-Ghazali sebagai kesadaran jiwa (ash-shabr an-nafs), sedangkan menahan terhadap penyakit fisik disebut sebagai sabar badani (ash-shabr al-bdani) kesabaran jiwa sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek, misalnya untuk menahan nafsu makan dan seks yang berlebihan.


5.      Syukur
Syukur diperlukan karena semua yang kita lakukan dan kita miliki di dunia ini adalah berkat karunia Allah SWT. Allah SWT telah memberikan nikmat kepada kita berupa pendengaran, penglihatan, kesehatan, keamanan maupun nikmat-nikmat lain yang tidak terhitung jumlahnya.
6.      Rela (ridha)
Ridha berarti menerima dengan rasa puas apa yang dianugrahkan Allah SWT. Orang yang rela mampu melihat hikmah dan kebaikan dibalik cobaan yang diberikan Allah SWT, dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuan-Nya. Bahkan, ia mampu melihat keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan Dzat yang memberikan cobaan kepadanya sehingga tidak mengeluh dan tidak merasakan sakit atas cobaan tersebut. Hanya pada ahli ma’rifat dan mahabbah yang mampu bersikap seperti ini. Mereka bahkan merasakan musibah dan ujian sebagai suatu nikmat, lantaran jiwanya bertemu dengan yang dicintainya.
7.      Tawakal
Tawakal merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan dirinya terhadap Allah SWT. Al-Ghazali mengaitkan tawakal dengan tauhid dengan penekanan bahwa tauhid sangat berfungsi sebagai landasan tawakal.

B.     HAL-HAL YANG DI JUMPAI DALAM PERJALANAN SUFI
Hal-hal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi antara lain waspada dan mawas diri (muhasabat dan muraqabat), kehampiran atau kedekatan (qarb), cinta (hub), takut (khauf), harap (raja), rindu (syauq), intim (uns), tentram (thuma’ninah), penyaksian (musyahadah), dan yakin.
Penjelasan yang di maksud adalah sebagai berikut:
1.      Waspada dan Mawas Diri (Muhasabah dan Muraqabah)
Waspada dan mawas diri merupakan dua sisi dari tugas yang sama dalam menundukan perasaan jasmani yang berupa kombinasi dari pembawaan nafsu dan amarah.
            Waspada (muhasabah) dapat diartikan meyakini bahwa Allah SWT mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati, yang membuat seseorang menjadi terhormat, takut dan tunduk kpd Allah SWT. Adapun mawas diri (muraqabah) adalah meneliti dengan cermat apakah segala perbuatanya sehari-hari  telah sesuai atau malah menyimpang dari yang di kehendaki-Nya.


2.      Cinta (hubb)
Dalam pandangan tasawuf, mahabbah (cinta) merupakan pijakan bagi segenap kemuliaan hal, sama seperti tobat yang merupakan dasar bagi kemuliaan maqam. Karena mahabbah pada dasarnya adalah anugrah yang menjadi pijakan bagi segenap hal, kaum sufi menyebutnya sebagai anugerah-anugerah (mawahib). Mahabbah adalah kecendrungan hati untuk memperhatikan keindahan atau kecantikan.
3.      Berharap dan takut (raja dan khauf)
Bagi kalangan kaum sufi, raja dan khauf berjalan seimbang dan saling mempengaruhi. Raja berarti berharap atau optimisme. Raja’ atau ptimisme adalah perasaan hati yang senang karena menaati sesuatu yang di inginkan dan di senangi. Raja atau optimisme ini telah di tegaskan dalam Al-Qur’an
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah. Allah maha pnganpun lagi maha penyayang. (Q.S Al- Baqarah (2): 218)
Orang yang harapan dan penantiannya menjadikannya berbuat ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan, berarti harapannya benar. Sebaliknya, jika harapanya hanya angan-angan, sementara ia sendiri tenggelam dalam lembah kemaksiatan, harapanya sia-sia dan percuma.
Raja’ menurut tiga perkara yaitu:
1.      Cinta pada apa yang di harapkanya.
2.      Takut harapanya hilang.
3.      Berusaha untuk mencapainya.
Raja’ yang tidak di barengi dengan tiga perkara itu hanyalah ilusi atau khayalan. Setiap orang yang berharap adalah orang yang takut (khauf). Orang yang berharap sampai di suatu rempat tepat waktunya, tentunya ia takut terlambat. Karena takut terlambat, ia mencepatkan jalanya, begitu pula orang yang mengharap ridha atau ampunan tuhan, di iringi pula dengan rasa takut akan siksaan Tuhan.
Khauf adalah kesakitan hati karena membayangkan sesuatu yang di takuti. Yang akan menimpa pada masa yang akan datang. Khauf dapat mencegah hamba berbuat maksiat dan mendorongnya untuk senantiasa berada dalam ketaatan.kekurangan khauf akan menjadikan seseorang lalai dan berani berbuat maksiat. Sedangkan khauf yang berlebihan akan menjadikanya putus asa dan pesimis, begitu juga sebaliknya, terlalu besar sikap raja akan membuat seseorang sombong dan meremehkan amalan-amalannya karena optimisnya yang berlebihan.

4.      Rindu (syauq)
Selama masih ada cinta, syauq tetap di perlukan, dalam lubuk jiwa, rasa rindu tumbuh dengan subur, yaitu rindu ingin segera bertemu dengan tuhanya.ada yang mengatakan bahwa maut marupakan bukti cinta yang benar. Lupa kepada Allah SWT lebih bahaya daei maut. Bagi sufi yang rindu kepada tuhan mati berarti bertemu dengan tuhan. sebab, hidup merintangi pertemuan ‘abid dengan ma’bun-Nya.

C.    POTENSI ‘IRFANI
Salah satu syarat memperoleh ma’rifat prasyaratnya antara lain, kesucian jiwa dan hati.
Untuk memperoleh kerifan atau makrifah, hati (qalb) mempunyai fungsi esensial  sebagai mana di ungkapkan Ibnu Arabi dalam fhusus Al-hikam-Nya:
Artinya:
“ Qalb dalam pandangan kaum sufi adalah tempat kedatangan kasyf dan ilham iapun berfungsi sebagai alat untuk ma’rifat dan menjadi cermin yang memantulkan (tajalli) makna-makna keghaiban”.
Tampaknya kaum sufi memandang kesucian qalb sebagai prasyarat secara batiniah untuk berdialog secara batini dengan tuhanya, mereka mengemukakan bahwa tuhan hanya bisa di dekati jiwa yang suci. Ilmu pengetahuan yang di hasilkan dari dunia dialogis batiniyah dengan perangkat qalb yang suci inilah yang mereka sebut sebagai ilmu ma’rifat. Bahkan secara spesifik mampu memperoleh ilmu laduni, yaitu ilmu yang datang melalui ilham yang di bisikan kedalam hati manusia.
            Berdasarkan uraian di atas , dapat di pahami bahwa hati (qalb) menjadi sarana untuk memperoleh ma’rifat, qalblah yang akan mampu mengetahui hakikat pengetahuan karena qalb telah di bekali potensi untuk berdialog dengan Tuhan. Hal ini mengisyaratkan bahwa ma’rifat tidak di miliki sembarang orang, tetapi hanya dimiliki orang-orang yang telah melakukan upaya-upaya untuk memperolehnya. Untuk itu, di samping melalui tahpan-tahapan maqamat dan ahwal , untuk memperoleh ma’rifat, seseorang harus melalui upaya-upaya tertentu.



1.      Riyadhah
Riyadhah sering disebut juga latihan-latinah mistik. Maksudnya adalah latihan kejiwaan melalui upaya-upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang mengotori jiwanya. Riyadhah dapat berati pula proses internalisasi kejiwaan dengan sifat-sifat terpuji dan melatih membiasakan meninggalkan sifat-sifat jelek.
Riyadhah harus di sertai dengan mujahadah, yaitu kesungguhan dalam perjuangan meninggalkan sifat-sifat jelek. Perbedaan riyadhah dan mujahadah adalah riyadhah berupa tahapan-tahapan real, sedangkan mujahadah berjuang menekan atau mengendalikan dengan sungguh-sungguh pada masing-masing tahapan riyadhah. meskipun demikian riyadhah tidak dapat di pisahkan dari mujahadah karena keduanya ibarat dua sisi pada mata uang.
Riyadhah beruna untuk menempa tubuh jasmani dan akal budi yang melakukan latihan-latihan itu sehingga mampu menangkap dan menerima komunikasi dari alam ghaib (malakut) yang transendental. Hal terpenting dalam riyadhah adalah melatih jiwa melepaskan kebergantungan terhadap kelezatan duniawi yang fatamorgana, lalu menghubungkan diri dengan realitas rohani dan illahi. Dengan demikian, riyadhah akan mengantarkan seseorang selalu berada di bawah bayangan yang kudus.
2.      Takafur
Takafur penting di lakukan tiap manusia yang menginginkan makrifat, sebab, tatkala jiwa telah belajar mengelola ilmu, lalu memikirkan (ber-tafakur) dan menganalisisnya, pintu keghaiban akan di bukakan untuknya.
Takafur berlangsung secara internal dengan proses pembelajaran dari dalam diri manusia melalui aktivitas berfikir yang menggunakan perangkat batiniah (jiwa). Selanjutnya tafakur di lanjutkan dengan memotensikan nafs kulli (jiwa universal)
Nafs kulli mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menghasilkan ilmu,terutama ilmu ma’rifat. Alasannya ilmu yang di hasilkan melalui penggunaan nafs kulli, kegiatan takafur mempunyai peranan sangat penting.
3.      Tazkiyat an-nafs
Tazkiyat an-nafs adalah proses penyucian jiwa manusia. proses penyucian jiwa dalam kerangka tasawuf ini dapat di lakukan melalui tahapan takhalli. Tazkiat an-nafs merupakan inti kegiatan bertasawuf.
            Upaya melakukan penyempurnaan jiwa harus di lakuakn oleh setiap orang yang menginginkan ilmu ma’rifat. sebab ilmu ma’rifat tidak dapat di terima oleh orang yang jiwanya kotor.ada lima penghalang bagi jiwa dalam menangkap hakikat yaitu: pertama, jiwa yang belum sempurna; kedua, jiwa yang dikotori perbuatan-perbuatan maksiat; ketiga, menuruti keinginan badan; keempat, penutup yang menghalangi masuknya hakikat kedalam jiwa (taqlid); kelima, tidak dapat berpikir logis. Penyempurnaan jiwa dapat di lakukan dengan tazkiyiat an-nafs.
4.      Zikrullah
Secara etimologis zikir adalah mengingat, sedangkan secara istilah adalah membasahi lidah degan ucapan-ucapan pujian kepada Allah SWT. Zikir adalah metode lain yang paling utama untuk memperoleh ilmu laduni.
Pentingnya zikir untuk mendapatkan ilmu ma’rifat di dasarkan atas argumentasi tentang peranan zikir bagi hati. Al-Ghazali, dalam ihya’, menjelaskan bahwahati manusia tak ubahnya seperti kolam yang di dalamnya mengalir bermacam-macam air. Pengaruh-pengaruh yang datang kedalam hati adakalanya  berasal dari luar yaitu pancaindera, adakalnya dari dalam yaitu khayal syahwat, amarah, dan akhlak atau tabi’at manusia.
      Dalam pandangan sufi, zikir akan membuka tabir alam malakut, yaitu dengan datangnya malikat. Zikir merupakan kunci pembuka alam ghaib, penarik kebaikan, penjinak was-was dan pembuka kewalian. Zikir juga bermanfaat untuk membersihkan hati. Al-Ghazali dalam ihya’ menjelaskan bahwa hati yang terang merupakan hasil zikir kepada Allah SWT. Takwa merupakan pintu gerbang zikir, sedangkan zikir merupakan pintu gerbang kasyaf (terbuka hijabnya). Sementara, kasyaf adalah pintu gerbang kemenangan yang besar. Masih menurut Al-Ghazali zikir juga berfungsi mendatangkan ilham, ruang gerak setan menjadi terhalang kebenarannya sehingga setan pergi menjauh dapri hati manusia. Pada saat itulah malaikat akan memberikan ilham kedalam hati.















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Perjalanan menuju Allah SWT, merupakan metode pengenalan (makrifat) secara rasa (rohaniah) yang benar terhadap Allah SWT. Manusia tidak akan tahu banyak Penciptanya sebelum melakukan perjalanan menuju Allah SWT walaupun ia adalah orang yang beriman secara aqliyah. Sebab, ada perbedaan yang dalam antara iman secara aqliyah atau logis-teoritis (al-iman al-aqli an-nuzhari) dan iman secara rasa (al-iman asy-syu’ri adz-dzauqi).
            Dalam perjalanan menuju Allah SWT, kaum sufi harus menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqam (tingkatan) dan hal (keadaan). Maqam-maqam yang dijalani kaum sufi umumnya terdiri atas tobat, zuhud, faqr, sabar, syukur, rida dan tawakal.
            Hal-hal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi antara lain : waspada dan mawas diri (muhasabbah dan muraqabbah), kehampiran atau kedekatan (qarb), cinta (hubb), takut (khauf), harap (raja’), rindu (syauq), intim (uns), tenteram (thuma’ninah), penyaksian (musyahadah) dan yakin.


















DAFTAR PUSTAKA

·         Anwar, Rosihan dan Muhtar Solihin, Akhlak Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia, 2000
·         Musthofa, HA, Akhlak Tasawuf, Bandung, Pustaka Setia, 2007





TASAWUF FALSAFI



TASAWUF FALSAFI
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
                  
                   Allhamdulillah segala puja dan puji semata hanya milik Allah SWT atas karunia nikmat iman  dan kecerdasan dalam kehidupan,shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan dalam bertindak,berfikir dan menjalani kehidupan.Mudah – mudahan kita menjadi bagian dari proses pencerahan dalam cahaya ilahi.
                   Melalui tulisan singkat dengan judul : Tasawuf Falsafi diharapkan bisa memberikan panduan dan gambaran bagi kita semua dan merupakan pengembangan kemampuan kami namun demikian usaha kami jelas jauh dari memadai.
                   Kepada Allah SWT semoga senantiasa menunjukan jalan melimpahkan bagi kita sekalian dan senantiasa melimpahkan brekah, rahmat dan keridloannyan.AMIN.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Tasawuf merupakan bagian ilmu dari islam saat ini, tasawuf muncul padamasa sahabat dan tabi’in. Akan tetapi pada masa tersebut belum dijadikan sebagai ilmu. Pemahaman tenteng tasawuf berbeda-beda. Salah satu pandangan tersebut menyatakan bahwa tasawuf adalah ajaran yang sesat.Untuk itu kita tertarik untuk mengulas sekilas tentang akhlak tasawuf yakni mencangkup diantaranya pengertian dan perkembangan Tasawuf Falsafi serta Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi

B.     Tujuan
 Sesuai dengan judul makalah ini diharapakan agar kita dapat mengetahuii pengertian dan perkembangan Tasawuf Falsafi serta Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi.



           














BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian dan Perkembangan Tasawuf  Falsafi

Tasawuf  falsafi adalah tasawuf yang ajaran ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasanya.Terminologi falsafi tersebut berasal dari macam- macam ajran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya. menurut At-Taftazani,tasawuf falsafi mulai muncul dalam khazanah islam sejak abad keenam Hijriyah,meskipun para tokohnya baru dikenal setelah abad kemudian.Sejak saat itu, tasawuf jenis ini masih terus hidup dan berkembang, terutama di kalangan para sufi yang juga filuf, sampa menjelang akhir-akhir ini. Adanya pemaduan antara tasawuf dan filsafat dalam ajaran tasawuf falsafi ini dengan sendirinya telah membuat ajaran-ajaran tasawuf jenis ini bercampur dengan sejumlah ajaran filsafat di luar islam, seperti Yunani, Persia,India, dan Agama Nasrani. Akan tetapi,orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang.sebab, meskipun mempunyai latarbelakang kebudayaan dan pengetahuan yang berbeda dan beragam, seiring dan ekspansi Islam yang telah meluas paa waktu itu, para tokohnya tetap beru saha menjaga kemandirian ajaran aliran mereka, terutama apabila dikaitkan dengan kedudukannya sebagai umat islam.
Masih menurut At- Taftazani, ciri umum tasawuf falsafi adalah ajaran yang samar- samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkn pada rasa (dzauq),tetapi tidak dapat pula dikatagorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajaranya sering di ungkapkan dalam bahsa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme. Para sufi yang juga filsuf pendiri aliran tasawuf ini mengenal dengan baik filsafat Yunani serta berbagai alirannya,seperti Socrates, Plato, Aritoteles,aliran Stoa, aliran Neo- Platonisme dengan filsafatnya emanasi.Bahkan , mereka pun ckup akrab dengan filsafat yang sering disebut Hermenetisme yang karya-karyanya banyak diterjemahkan  ke dalam bahasa Arab, dan filsafat- filsafat Timur kuno, baik dari Persia maupun India, serta filsafat- filsafat Islam, seperti yang diajarkan oleh Al- Farabi dan Ibnu Sina. Mereka pun dipengaruhi aliran batiniah sekte Isma’iliyyah aliran Syi’ah dan risalah-risalah ikhwan Ash-shafa.
B.     Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi
1.      Ibnu Arabi
v  Riwayat Hidup

Nama lengkap Ibnu Arabi adalah Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath-Thai Al Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol, tahun 560 H, dari keluarga berpangkat,hartawan, dan ilmuwan. Namanya biasa disebut tanpa “al” untuk membedakan dengan Abu Bakar Ibnu Al-Arabi, seorang qadhi dari Sevilla yang wafat pada tahun 543 H. Disevilla (Spanyol), ia mempelajari Al-qur’an, Al-Hadits, serta Fiqh pada sejumlah murid orang faqih Andalusia terkenal, yaitu Ibnu Hazm Azh-Zhahiri.
            Setelah berusia 30 tahun, ia mulai berkelana keberbagai kawasan Andalusia dan kawasan islam bagian barat. Dianatara deretan gurunya, tercatat nama-nama seperti Abu Madyan Al-Ghauts At-Thalimsari dan Yasmin Musyaniyah (seorang wali dari kalangan wanita). Keduanya banyak memngaruhi ajaran Ibnu Arabi. Dikabarkan, ia pun pernah berjumpa dengan Ibnu Rusyd, filsuf muslim dan tabib istana dan dinasti Bebar dari Alomohad, di Kordova. Ia pun dikabarka mengunjungi Almariyyah yang menjadi pusat madrasah Ibnu Masarrah, seorang sufi falsafi yang cukup berpengaruh dan memperoleh banyak pengaruh di Andalusia.
Di antara karya monumentalnya adalah Al-Futuhat Al-Makiyyah yang ditulis pada tahun 1201 tatkala ia sedang menunaikan ibadah haji. Karya lainnya adalah Tarjuman Al-Asuywaq yang ditulisnya untuk mengenang kecantikan, ketakwaan dan kepintaran seorang gadis sebagaimana di laporkan oleh moulvi.

v  Ajaran – Ajaran Tasawufnya

Ajaran sentral Ibnu Arabi adalah tentang Wahdat al – Wujud (kessatuan wujud). Meskipun demikian , istilah Wahdat Al – Wujud yang dipakai untuk menyebut ajaran sentralnya, tidak lah berasal darinya, tetapi bersal dari Ibnu Taimiyyah, tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentralnya tersebut, atau setidak –tidaknya tokoh itu lah yang telah berjasa dalam memopulerkannya ke tengah masyarakat islam,meskipun tujuannya negatif. Disamping itu,meskipun semua orang sepakat menggunakan ittilah Wahdat al – Wujud untuk menyebut ajaran sentral Ibnu Arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian Wahdat al –Wujud.
Menurut Ibnu Taimiyyah, Wahdat al–Wujud adalah penyamaan Tuhan dengan Alam. Menurut penjelasannya, orang- orang yang mempunyai  hanya satu dan wajib al – wujud yang dimilki oleh khaliq adalah juga mumkin al- Wujud yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu orang –orang yang mempunyai paham wahdat Al –wujud juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud tuhan , tidak ada kelainan dan tidak ada perbedaan.
Menurut Ibnu Arabi, wujud semua yang ada ini hanya satu dan wujud makhluk pada hakekatnya adalah wujud khaliq pula.tidak ada perbedaan antara keduanya (khaliq dan makhluk) dari segi hakekat. Adapun  kalau ada yang mengira bahwa antara wujud khaliq dan makhluk ada perbedaan, hal itu dilihat dari sudut pandang pancaindra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat apa yang ada pada Dzat-Nya dari kesatuan dzatiah yang segala sesuatu berhimpun pada-NYa.
Menurut Ibnu Arabi, wujud  pada hakikatnya adalah wujud Allah. Allah adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud yang qadim yang disebut khaliq dan wujud yang baru disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antara ‘abid (menyembah) dengan ma’bud (yang disembah). Bahkan antara yang menyembah dan yang disembah adalah satu. Perbedaan itu hanya pada rupa dan ragam dari hakikat yang satu.
Dalam bentuk lain dapat dijelaskan bahwa makhluk  oleh khalik (tuhan) dan wujudnya bergantung pada wujud tuhan sebagai sebab dari segala yang berwujud selain tuhan. Semua yang berwujud selain tuhan tidak akan mempunyai wujud, seandainya tuhan tidak ada. Oleh karena itu, Tuhanlah sebenarnya yang mempunyai wujud  hakiki, sedangkan yang diciptakan hanya mempunyai wujud yang bergantung pada wujud diluar dirinya, yaitu  tuhan. Semua yang diciptakan (makhluk dan alam) tidak mempunyai wujud. Dengan demikian, wujud itu hanya satu yaitu wujud tuhan. Sangat jelas bahwa Ibnu Arabi  masih membedakan antara tuhan dan alam, dan wujud tuhan tidak sama   wujud alam. Meskipun disatu sisi terkesan menyamakan tuhan dengan alam, disisi lain ia menyucikan tuhan dari adanya persamaan.
Dari konsep wahdat al-wujud Ibnu Arabi, muncul lagi dua konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep wahdat al-wujud tersebut, yaitu konsep al-hakikat al-muhammadiyah dan konsep  wahdat al-adyan (kesamaan agama).
Menurut Ibnu Arabi, Tuhan adalah pencipta alam semesta. Adapun proses pencptaanya adala sebagai berikut :
Ø  Tajalli Dzat Tuhan dalm bentuk Ayan tsabitah
Ø  Dzat Tuhan dari alam ma’ ani kea lam (ta’ayyunat) realitas –realitas rohaniah, yaitu alam arwah yng Mujarrad
Ø  Tanazul pada realitas –realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berfikir
Ø  Tanazul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi yaitu mitsal(ide) atau khayal
Ø  Alam materi yaitu alam indriawi
Selain itu, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa terjadinya alam inin tidak bisa dipisahkan dari ajaran hakikat muhammadiyah atau Nur Muhammad. Menurutnya,tahapan tahapan kejadian proses penciptaan dalam hubungannya dengan kedua ajaran itu dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ø  Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu Dzat yang mandiri dan tidak berhajat pada suatu apapun.
Ø  Wujud hakikat muhammadiyyah merupakan emanasi (pelimpahan )pertama dari wujud Tuhan. Dari sini, Kemudian muncul segala wujud dengan proses tahapn –tahapanya sebagai yang dikemukakan di atas.



2.         Al- Jili
v Riwayat Hidup

Nama lengkap ‘Abdul Karim bin Ibrahim Al-jili. Ia lahir pada tahun 1365 M di Jilan (Gilan), sebuah provinsi disebelah selatan Kasfia dan wafat pada tahun 1417 M. Nama Al-Jili diambil dari tempat kelahirannya di Gilan. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari Bagdad. Riwayat hidupnya tidak banyak  diketahui oleh para ahli sejarah,tapi sebuah sumber mengatakan bahwa ia pernah melakukan perjalanan keindia tahun 1378 M, kemudian belajar tasawuf di bawah bimbingan Abdul Qadir Al-Jailani, seorang pendiri dan pemimpin Tarekat Qadiriyah yang sangat terkenal. Disamping itu berguru pula pada Syeh Sbyarifudin Isma’il  bin Ibrahim Al-jabarti di Zabid (Yaman) pada tahun 1393-1403M.

v  Ajaran Tasawuf Al-Jili

Ajaran btasawuf Al- Jili yang terpenting adalah paham insane kamil ( manusia sempurna)
Menurut Al – Jili Insan Kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan. Sebagaimana diketahui, Tuhan memiliki sifat – sifat seperti hidup, pandai, maupun berkehendak, mendengar, dan sebagainya. Insane kamil menurut konsep Al – Jili adalah perencanaan Dzat Allah SWT. (nuqtah al – haqq) melalui proses empat tajali, sekaligus sebagai proses maujudat yang terhimpun dalam diri Muhammad SAW. Insan kamil bagi Al –Jili merupakan proses tempat beredarnya segala yang wujud ( aflak al–wujud ) dari awal sampai akhir. Dia adalah satu ( wahid) sejak wujud dan untuk selamanya.
Disamping itu, insane kamil dapat muncul dan menampakan dirinya dalam berbagain macam. Ia diberi nama dengan nama yang tidak diberikan kepada orang lain ; nama aslinya adalah Muhammad, nama kehormatannya Abu Al – Qasim dan gelarnya syamsu Ad – Din. Dari uraian ini, Al- Jili  menunjukan penghargaan yang tinggi kepada Nabi Muhammmad SAW. Sebagai insane kamil yang paling sempurna. Sebab, sungguhpun belau telah wafat, nurnya akan tetrap abadi dan mengambil bentuk pada diri orang – orang yang masaih hidup. Ketika Nur  Muhammmad SAW. Mengambil bentuk menampakan diri seseorang, ia dipanggil dengan nama yang sesuai dengan bentuk itu. Untuk mendekatkan diri pada Tuhan, seorang sufi harus menumpuh jalan panjang berupa stasiun –stasiun atau disebut Maqamat dalam istilah Arab. Sebagai seorang sufi, Al –Jili dengan membawa filsafat insane kamil merumuskan
Beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang menurut istilahnya ia sebut al – martabah atau jenjang ( tingkat ). Tingkat – tingkat tersebut adalah :

Pertama, Islam yang didasarkan pada lima pokok atau rukun, dalm pemahaman kaum sufi, tidak hanya melakukan kelima pokok itu secara ritual, tetapi harus di pahami dan dirasakan lebih dalam. Misalnya puasa, menurut  Al Jili ; merupakan isyarat untuk menghindari tuntutan kemanusiaan agar si shaim memiliki sifat – sifat ketuhannan, yaitu dengan cara mengosongkan jiwanya dari tuntutan – tuntutan kemanusiaan maka terisilah jiwa oleh sifat – sifat ketuhannan.

Kedua, iman yaitu membenarkan dengan sepenuh keyakinan akan rukun iman dan melaksanakan dasar – dasar islam. Iman merupakan tangga pertama untuk mengungkap takbir alam gaib, dan alat yang membantu seseorang mencapai tingkat atau maqam yang lebih tinggi. Iman menunjukan sampainya hati mengetahui sesuatu yang jauh diluar  jangkauan akal. Sebab, sesuatu yang diketahui akal tidak selalu membawa pada keimanan.

Ketiga, Ash – Shalah, yaitu dengaN maqam ini telah menunjukan bahwa seorang sufi mencapai tingkat menyaksikan efek ( atsar )ndari nama sifat tuhan, sehingga dalam ibadahnya, ia merasa seakan – akan berada dihadapannya. Persyaratan yang harus ditemnpuh dalam maqam ini adalah sikap istiqomah dalam tobat, inabah, zuhud, tawakal,tajwidh, rida, dan ikhlas.

            Kelima, syahadah, seorang sufi dalam maqam ini telah mencapai iradah yang bercirikan mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingatnya secara terus menerus dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi. Syahadah terbagi dalam dua tingkatan yaitu mencapai mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih yaitu tingkat yang paling rendah dan menyaksikan Tuhan pada semua makhluknya secara ainul yaqin yaitu tingkat yang paling tinggi.

            Keenam, shiddiqiyah. Istilah ini menggambarkan tingkat pencapaian hakikat yang makrifat yang diperoleh secara bertahap dari ilmu al-yaqin dan sampai haqq yaqin.ketiga tingkat makrifat itu dialami ol;eh seorang sufi secara bertahap. Jadi menurut al-jili seorang sufi yang telah mencapai derajat shiddiq akan menyaksikan hal-hal ghaib kemudian melihat rahasia-rahasia Tuhan mengetahui hakikat dirinya. Setelah mengalami fana ia memperoleh baqa ilahi. Setelah baqa dengan Tuhan, ia selanjutnya adalah menampakkan nama-nama. Inilah batas pencapaian ilmu al-yaqin.
            Ketika penampakan sifat-sifat terjadi, akan diperoleh makrifat zat dari segi sifat. Demikian berlangsung selanjutnya sampai mencapai makrifat zat dengan zat. Akan tetapi tidak merasa puas dengan makrifat zat dengan zat, ia mencoba melepaskan sifat-sifat rububiyah sehingga dapat terhiasi dengan sifat-sifat dan nama Tuhan. Tingkat semacam inilah yang dinamakan haqq al-yaqin.

            Ketujuh,qurban. Maqam ini merupakan maqam yang memungkinkan seorang sufi dapat menampakkan diri dalam sifat dan nama yang mendekati sifat dan nama Tuhan.

3.      Ibnu Sab’in

v  Riwayat Hidup Ibnu Sab’in

Nama lengkap Ibnu Sab’in adalah Abdul Haqq Ibn Ibrahim Muhammad Ibn Nashr, Seoarng sufi yang juga filsuf dari Andalusia. Dia terkenal di Eropa karena jawaban-jawabannya atas pernyataan Frederik II, penguasa Sicilia. Dia dipanggil Ibnu sab’in dan dibari gelar Quthbuddin tetapi kadang-kadang, dia dikenal pula dengan Abu Muhammad. Dia mempunyai asal asul Arab dan dilahirkan tahun 614 H (1217-1218 H) di kawasn Murcia. Ibnu Sab’in mempelajari  bahasa arab dan sastra pada kelompok gurunya. Dia juga mempelajari ilmu-ilmu agama dari
            Madzhab Maliki, ilmu-ilmu logika, dan fisafat . Dia mengemukakan bahwa di antara guru-gurunya itu adalah Ibnu Dihaq, yang dikenal Ibnu al-mir’ah (meninggal tahun 611 H), pensarah karya al-juwaini,Al-irsad. Karena ibny Sab’in lahir tahun 614 H, sementara Ibnu dihaq meninggal tahun 611 H. Jelas bahwa Ibnu Sab’in menjadi murid ibnu dihaq hanya melalui kajiannya terhadap karya-karya tokoh tersebut. Begitu juga dalam hubungan nya dengan dua gurunya yang lain, yaitu al-yuni (meninggal tahun 622 H) dan al-hurani (meninggal tahun 538 H), yang keduanya ahli tentang huruf ataupun nama. Menurut salah seorang murid Ibnu Sab’in, yang mensarah kitab risallah al-abd, hubungan antara ibnu Sab’in dan gurunya tersebut  lebih banyak terjalin melalui kitab dari pada secara langsung.
Ibnu Sab’in tumbuh dewasa dalam keluarga ayahnya adalah pengusa kota kelahirannya. Begitu juga dengan nenek moyangnya yang juga dari kalangan penguasa. Ibnu Sab’in meninggalkan karya sebanyak empat puluh satu buah yang menguraikan tasawufnya secara teoretis ataupun  praktis dengan cara yang ringkas ataupun panjang lebar.Karya-karya itu tampak bahwa pengetahuan Ibnu Sab’in cukup luas dan beragam. Dia mengenal berbagai aliaran  filsafat yunani, dan filsafat-filsafat Hermetitisme, Persia, India. Disamping itu, dia juga banyak menelaah karya filsuf-filsuf islam dari dunia islam bagian timur, seperti A-lfarabi dan Ibnu Sina, dan filsuf-filsuf islam bagian barat, seperti Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Bahkan dia begitu menguasai kandungan risalah-risalah Ikhwan Ash-Shafa  dan secara terperinci mengetahui aliran-aliran teologi, khususnya aliaran Asy’ariyyah. Pengetahuannya tentang aliaran tasawuf begitu mendalam. Semua tampak  jelas dari kritikannya terhadap para filsuf, teologi, dan para sufi sebelumnya. Disamping semua itu, dia juga begitu menguasai aliran-aliaran fiqh.

v  Ajaran Tasawuf Ibnu Sab’in

Ibnu adalah seoarang pengasas paham dalam kalangan tasawuf filosofis yang di kenal dengan paham kesatuan mutlak. Pendapat Ibnu Sab’in tentang kesatuan mutlak tersebut merupakan dasar dari paham, khususnya tetang para pencapai kesatuan mutlak ataupun pengakraban Allah SWT paham ini mirip paham hakikat Muhammad SAW. Ataaupun Quthb dari sabagian sufi yang juga filsuf, seperti Ibnu Arabi, dan Ibnu Al-farid, ataupun paham manusia sempurna dari Abdul Karim Al-Jili. Pencapaian kesatuan mutlak, menurut Ibnu Sab’in adalah individu yang paling sempurna,sempurna yang dimiliki seorang faqih, teolog, filsuf ataupun sufi.
Ibnu Sab’in berpendapat bahwa logika barunya yang dia sebut juga dengan logika  melihat yang belum pernah dilihatnya ataupun mendengar yang belum pernah didengarnya. Dengan demikian, logika tersebut bercorak intuitif. Kesimpulan penting Ibnu Sab’in dengan logikanya tersebut adalah bahwa realitas-realitas logika itu alamiah dalam jiwa manusia dan keenam logika (genius, species, diference,proper,person,  accident) yang memberikan kesan adanya wujud yang jamak hanya ilusi.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :

Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajaranya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya.Berbeda dengan tasawuf akhlaki. Tasawuf  falsafi menggunakan terminology filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
Di antara tokoh-tokoh tasawuf falsafi adalah Ibnu Arabi, Al-Jili, Ibnu Sab’in, dan Ibnu Masarrah.























DAFTAR PUSTAKA

Anwar, M. Ag, Prof. Dr. Rosihon. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.2010.
Kautsar Azhari Noer.Ibn Arabi Wahdat Al-Wujud dalam Perdebatan. Paramadina.1995.
Simuh, 1996,Tasawuf  dan   Perkembanganya  islam,PT Raja Grafindo Persada,Jakarta.