BAB I
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam
mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan
Budha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh
dari luar. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib
Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada
Tuhan di gurun pasir Arabia. Tempat mereka
menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari,
kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam
hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati
baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari khalayak
ramai. Mereka adalah orang yang berhati baik, pemurah dan suka menolong.
Pengaruh filsafat Yunani dikatakan
berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, Ruh manusia adalah
suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke
dalam tubuh manusia yang bernafsu. Ruh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak
suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Untuk
itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat serta
ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Filsafat sufi juga demikian.
Ruh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam Ruhani yang
suci, tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh
manusia. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, Ruh yang telah
kotor itu dibersihkan dahulu melalui ibadah yang banyak serta melewati beberapa
ujian-ujian dari mulai membersihkan diri dari segala dosa hingga mencapai rida
Ilahi.
Dari agama Budha, pengaruhnya dikatakan
dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, memasuki
hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk
bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama
Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui
kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman
ittihad.
Kita perlu mencatat, agama Hindu dan
Budha, filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang
kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu
kemungkinan. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis.
Hakekat tasawuf adalah mendekatkan diri
kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia.
Dekatnya Tuhan kepada manusia disebutkan Alquran dan Hadits. "Jika hambaKu
bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang
memanggil jika Aku dipanggil."
Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut
betapa dekatnya Tuhan dengan manusia, "Telah Kami ciptakan manusia dan
Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan
manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya.” Ayat ini menggambarkan
Tuhan berada bukan diluar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri.
Disini, sufi melihat persatuan manusia
dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Tuhan dekat bukan hanya
kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis
berikut, “Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin
dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, dan melalui mereka Aku pun dikenal.”
Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan
makhluk bersatu, dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalau
ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad, maka hadis terakhir ini mengandung
konsep wahdat al-wujud, kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.
Demikianlah ayat-ayat Alquran dan
Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada
makhluk-Nya yang lain. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar
agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. Dengan khusuk dan
banyak beribadah ia akan merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan
mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan Ruhnya dengan Ruh Tuhan; dan
inilah hakikat tasawuf.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Pengertian
Tasawuf Ahlaqi?
2.
Tokoh-tokoh
Tasawuf Ahlaqi?
3.
Ajaran-ajaran
Tasawuf Ahlaqi?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tasawuf
Ahlaqi
Tasawuf Ahlaqi ditinjau
dari sudut bahasa merupakan bentuk fase atau dalam kaidah bahasa Arab disebut
dengan jumlah idhofah. Merupakan gabunga dari dua kata menjadi satu
kesatuan makna yang utuh dan menentukan realitas yang khusus. Dua kata tersbut
adalah “tasawuf” dan “ahlak”.
Kata “tasawuf”, menurut
kaidah ilmu sharaf merupakan bentuk isim masdar, yaitu tasshawwufan,
yang berasal dari fi’il tsulasi mazid khumasi, yaitu tasawwafa
yang memiliki fungsi untuk membentuk makna lil mutawa’ah atau transitif
(kata kerja yang selalu memiliki obyek dalam kalimat) dan lil-musyarokah
atau membentuk makna saling. Dengan demikian, arti kata “tasawuf” dalam
bahasa arab bisa membersihkan atau saling membershkan. Kata “membersihkan”
merupakan kata kerja transitif yang membutuhkan obyek. Obyek dari tasawuf ini
adalah ahlak manusia. Kemudian saling membersihkan merupakan kata kerja yang di
dalamnya harus terdapat dua subyek yang aktif memberi dan menerima.
Apabila fungsi lil-musyarakah
dalam kata “tasawuf”, berarti ketika seorang hamba hidup bertasawuf, pada
dasarnya dia telah berbuat sesuatu sesuai dengan Tuhan dan Tuhan membalasnya
dengan mengijabah segala keinginannya dari hambanya.
Kemudian, “Ahlak” juga
berasal dari bahasa Arab. Kata akhlaq merupakan bentuk jamak dari khuluq
yang secara bahasa bermakna perbuatan atau penciptaan. Akan tetapi, dalam
konteks agama, akhlak bermakna perangai, budi, tabiat, adab, atau tingkah laku.
Konsepsi ajaran akhlak
menurut Islam adalah menuju perbuatan amal saleh, yaitu semua perbuatan yaitu
semua pebuatan baik dan terpuji, faedah , dan indah untuk mencapai kebahagiaan
di dunia dan akhiratyang diridoi Allah swt, sedangkan amal saleh adalah inti
ajaran Islam yang harus diterapkan untuk melatarbelakangi konsepsi akhlak yang
hendak dilakukan oleh manusia.
Secara etimologis, tasawuf
akhlaki bermakna membersihkan tingkah laku atau saling membersihkan tingkah
laku. Jika konteksnya adalah manusia ini bisa dipandang sebagai sebuah tatanan
dasar untuk menjaga akhlak manusia atau dalam bahasa sosialnya molaritas
masyarakat.
Oleh karena itu, tasawuf
akhlaki merupakan kajian ilmu yang sangat memerlukan praktik untuk
menguasainya. Tidak hanya berupa teori
sebagai sebuah pengetahuan, tetapi harus terealisasi dalam rentang waktu
kehidupan manusia. Agar mudah menempatkan posisi tasawuf dalam kehidupan
bermasyarakat kajian tasawuf pada ilmu tasawuf akhlaki, yang didasarkan pada
sabda nabi Muhammad saw :
أنما بعثت لأتمم مكارم لأخلاق
“Sesungguhnya aku telah diutus (dengan
tujuan) untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”1
Tasawuf akhlaki merupakan gabungan antara ilmu tasawuf dengan ilmu akhlak.
Akhlak erat hubungannya dengan perilaku dan kegiatan manusia dalam interaksi
sosial pada lingkungan tempat tinggalnya. Jadi, tasawuf akhlaki dapat
terealisasi secara utuh, jika pengetahuan tasawuf dan ibadah kepada Allah swt.
Dibuktikan dalam kehidupan sosial.
B.
TOKOH DAN AJARAN-AJARAN TASAWUF AKHLAKI
1.
HASAN AL-BASYRI
a.
Riwayat Hidup
Hasan Al-Basyri, yang nama lengkapnya Abu Sa’id Al-Hasan
bin Yasar adalah seorang zahid yang amat masyhur di kalangan tabi’in. Ia
dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632) dan wafat pada hari Kamis bulan
Rajab tanggal 10 tahun 110 H (728).
Dialah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk
memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha mensucikan
jiwa di Masjid Bashrah. Ajaran-ajarannya tentang kerohanian senantiasa
didasarkan pada sunah nabi. Sahabat-sahabat Nabi yang masih hidup pada zaman
itu pun mengakui kebesarannya. Bahkan, ketika ada orang datang kepada Anas bin
Malik – sahabat nabi yang utama untuk menanyakan persoalan agama, Anas
memerintahkan orang agar menghubungi Hasan. Mengenai kelebihan lain Hasan, Abu
Qatadah pernah berkata, “Bergurulah kepada syekh ini. Saya sudah saksikan
sendiri (keistimewaanya). Tidak ada seseorang tabi’in pun yang menyerupai
sahabat Nabi lainnya”
Ia berguru hampir kepada seluruh ulama disana. Bersama
ayahnya, ia kemudian pindah ke Basyrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan
nama hasan Al-Basyri. Puncak keilmuannyaia peroleh di sana.
Hasan Al-Bashri terkenal dengan keilmuannya yang sangat
dalam. Tak heran kalau ia menjadi imam di bashrah secara khusus dan
daerah-daerah lainnya secara umum. Disamping dikenal sebagai zahid, ia pun
dikenal sebagai seorang yang wara’ dan berani dalam memperjuangkan kebenaran.
Diantara karya tulisnya berisi kecaman terhadap aliran kalam Qodariyyah dan
tafsir-tafsir Al-Quran.2
b.
Ajaran-ajaran tasawufnya
Abu Na’im Al-Ashbahani telah menyimpulkan pandangan
tasawuf Hasan Bashri sebagai berikut, “Sahabat takut (khauf)dan
pengharapan (raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan,
pandangan tasawuf yang lain adalah anjuran kepada setiap seorang untuk
senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh
perintah Allah swt, dan menjauhi seluruh larangannya.
Lebih jauh lagi, hamka mengemukakan sebagai ajaran
tasawuf Hasan Al-Bashri seperti berikut3.
1.
Perasaan takut yang menyebabkan hatimu
tentram lebih baik daripada rasa tentram yang menimbulkan perasaan takut.
2.
Dunia adalah negeri tempat beramal.
Barang siapa bertemu dunia dengan perasaan benci dan zuhud, ia akan berbahagia
dan memperoleh faedah darinya begiru pula sebaliknya.
3.
Tafakur membawa kita pada kebaikan dan
berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat menyebabkan kita untuk
tidak mengulanginya lagi
4.
Dunia ini adalah seorang janda tua yang
telah membungkuk dan beberapa kali ditinggal suaminya.
5.
Orang yang beriman akan senantiasa
berduka cita pada pagi dan sore hari karena berada diantara dua perasaan takut,
yaitu takut mengenag dosa yang telah lampaudan takut memikirkan ajal yang masih
tinggal serta bahaya yang akan mengancam.
6.
Hendaklah setiap orang sadar akan
kematian yang senantiasa mengancam, hari kiamat yang akan menagih janjinya.
7.
Banyak dukacita di dunia memperteguh
semangat amal saleh.
Muhammad mustofa, menyatakan bahwa tasawuf Hasan Al-Bashri didasari rasa
takut siksa tuhan didalam neraka, akan tetapi setelah di teliti, ternyata bukan
perasaan takut terhadap siksaanlah yang mendasari tasawufnya tetapi kebesaran
jiwanya akan kekeurangan dan kelalaian dirinya yang mendasari tasawufnya.
2.
Al-Muhasibi : pandangan Tasawufnya
Al-Muhasabi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat
ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah swt, melaksanakan kewajiban-kewajiban
dan meneladani Rasullallah saw. Tatkala sudah melaksanakan hal-hal tersebut
diatas seseorang akan diberi petunjuk oleh Allah swt, berupa penyatuan antara
fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasullallah dan lebih mementingkan akhirat
daripada dunia.4
a.
Pandangan Al-Muhasibi tentang makrifat
Al-Muhasibi mengatakan bahwa
makrifat harus di tempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan
sunah.5
Al-Muhasibi menjelaskan
tahapan-tahapan makrifat sebagai berikut.6
1.
Taat. Taat hanyalah wujud kongkrid dari
ketakwaan kepada Allah swt, bukan sekedar pengungkapan
ungkapan-ungkapankecintaan kepada Allah swt. Diantara implementasi kecintaan
kepada Allah swt adalah memenuhi hati dengan sinar. Sinar ini kemudian melimpah
pada lidah dan anggota tubuh lainnya
2.
Aktifitas anggota tubuh yang disinari
oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap makrifat selanjutnya.
3.
Pada tahap ketiga ini Allah swt menyingkapkan
khasanah-khasanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh
kedua tahap diatas.
4.
Tahap keempat adalah apa yang dikatakan
oleh sementara sufi dengan fana’ yang menyebabkan baka’.
b.
Pandangan Al-Muhasibi tentang khuf dan
raja’
Dalam pandangan Al-Muhasibi, khuf (rasa takut) dan
raja’ (pengharapan) menepati posisi yang penting dalam perjalanan
seseorang membersihkan jiwa. Khuf dan raja’, menurut Al-Muhasibi sapat
dilakukan dengan sempurna hanya berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunah.
Al-Muhasibi mengatakan bahwa Al-Quran jelas berbicara tentang pembalasan
(pahala) dan siksaan. Raja’ dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya
melahirkan amal saleh. Tatkala telah melakukan amal slaeh, seorang berhak
mengharap pahala dari Allah swt. Inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati
sebagaimana digambarkan oleh ayat berikut :
¨bÎ) úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä
z`É©9$#ur (#rãy_$yd
(#rßyg»y_ur
Îû
È@Î6y «!$# y7Í´¯»s9'ré& tbqã_öt |MyJômu «!$# 4
ª!$#ur
Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇËÊÑÈ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan
Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
3.
Al-Qusyairi
a.
Riwayat
hidup Al-Qusyairi
Adalah salah seorang tokoh sufi utama dari abad kelima hijriah.
Kedudukannya amatlah penting karena karya-karyanya tentang para sufi dan
tasawuf aliran Suni pada abad ketiga dan keempat hijriah.
Nama lengkap
Al-Qusyairi adalah ‘Abdul Karim binn Hawazin, lahir tahun 376 H di Istawa,
kawasan Naishabur, salah satu pusat ilmu pengetahuan dimasanya. Abu ‘Ali
Ad-Daqqaq adalah gurunya dia adalah seorang sufi terkenal. Al-Qusyairi adalah
pembela paling tangguh aliran Ahlus Sunah wal Jama’ah dalam menentang
doktrin aliran-aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah, dan Syi’ah. Karena
tindakannya, ia mendapat serangan keras, bahkan dipenjara sebulan lebih atas
perintah Taghrul Bek karena hasutan seorang mentrinya seorang yang menganut
aliran Mu’tazilah rafidhah. Menurut B. Khalikan, Al-Qusyari adalah seorang yang
mampu “mengompromikan syariat dengan hakikat.” Al-Qusyairi wafat tahun 465 H.7
b.
Ajran-ajaran
tasawuf Al-Qusyairi
Seandainya karya
Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, dikaji secara mendalam, akan
tampak jelas upaya Al-Qusyairi cenderung mengembalikan tasawuf ke atas landasan
doktrin Ahlus Sunah, sebagaimana pernyataannya,
“Ketahuilah!
Para tokoh aliran ini (maksudnya para sufi) membina prinsip-prinsip tasawuf
atas landasan tauhid yang benar, sehingga terpeliharalah doktrin mereka dari
penyimpangan. Selain itu, mereka lebih dekat dengan tauhid kaum salaf maupun
Ahlus Sunah, yang tidak tertandingi serta mengenal macet. Mereka pun tahu hak
yang lama, dan bisa mewujudkan sifat sesuatu yang diadakan dari ketiadaannya.
Oleh karena itu, tokoh aliran ini, Al-Junaid, mengatakan bahwa tauhid adalah
pemisah hal yang lama dengan hal dengan hal yang baru. Landasan doktrin-doktrin
mereka pun didasarkan pada dalil dan bukti yang kuat serta gamblang. Hal ini
seperti yang dikatakan Abu Muhammad Al-Jariri bahwa barang siapa tidak
mendasrkan ilmu tauhid pada slah satu pengokohnya, niscaya membuat
tergelincirnya kaki yang tertipu ke dalam jurang kehancuran.”8
Selain itu, Al-Qusyairi pun mengecam parasufi pada masanya karena kegemaran
mereka mempergunakan pakaian orang-orang miskin, tetapi tindakan mereka pada
saat yang sama bertentangan dengan pakaian mereka. Ia menekankan bahwa
kesehatan batin denga berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunah lebih penting
daripada pakaian lahiriah.
4.
Al-Ghazali
a.
Biografi
singkat Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin
Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali. Secara singkat dipanggil Al-Ghazali
atau Abu Hamid Al-Ghazali9.
Ayah Al-Ghazali
adalah seorang miskin pemintal kain wol yang taat, sangat menyenangi ulama, dan
sering aktif menghadiri majlis-majlis pengajian10. Ketika menjelang
wafatnya, ayahnya menitipkan Al-Ghazali danadiknya yang bernama Ahmad kepada
seorang sufi. Kepada sufi itu dititipkan sedikit harta, seraya berkata dalam
wasiatnya,11.
“aku
menyesal sekali karena aku tidak belajar menulis, aku berharap untuk
mendapatkan apa yang tidak kudapatkan itu melalui dua putraku ini”
Sufi tersebut
menjalanka wasiat itu dengan baik dengan cara mengajar keduanya, sampai suatu
ketika sufi tersebut kehabisan harta lalu menitipkan ke sebuah madrasah untuk
belajar sekaligus menyambung hidupnya12.
Al-Ghazali belajar
fiqih kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani. Kemudian memasauki sekolah tinggi
Nizhamiyah di Naishabur, dan disinilah ia berguru dengan Imam Haramain hingga
menguasai ilmu munthiq, fiqh-ushl, filsafat, tasawuf, dan retorika perdebatan.13
b.
Ajaran
Tasawuf Al-Ghazali
Dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan
Al-Quran dan Sunah Nabi saw, ditambah dengan doktrin Ahlus As-Sunah wa
Al-Jama’ah. Ia menjauhkan tasawufnya dari paham ketuhanan Aristoteles,
seperti emanasi dan penyatuan sehingga dapat dikatakan bahwa Al-Ghazali
benar-benar bercorak islam14.
Menurut Al-Ghazali, jalan menuju tasawuf baru dapat dicapai dengan
mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang
tercela, sehingga kalbu dapat lepas dari segala sesuatu yang selain Allah swt.
Ia juga berpendapat bahwa sosok sufi adalah yang terbaik, jalan mereka adalah
paling benar, dan moral mereka paling bersih. Sebab gerak-gerik mereka, baik
lahir maupun batin diambil dari cahaya kenabian.
Al-ghazali menjadikan tasawuf sebagai sarana untuk berolah rasa dan berolah
jiwa, sehingga sampai makrifat yang membantu menciptakan (sa’dadah).
1.
Pandangan
Al-Ghazali tentang makrifat
Menurut
Al-Ghazali, sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution, makrifat adalah
menetahui rahasia Allah swt dan mengetahui peraturan-peraturan tuhan tentang
segala yang ada15. Alat memperoleh makrifat bersandar pada sir,
qolb, dan roh.
Al-Ghazali
membedakan jalan pengetahuan sampai
kepada Tuhan bagi orang awam, ulama, dan orang arif (sufi). Untuk itu dia
membuat perumpamaan tentang keyakinan bahwa si fulan ada di dalam rumah
dirumah. Keyakinan orang awam dibangun atas dasar taqlid, bagi ulama keyakinan
adanya si fulan di rumah dibangun atas dasarnya adanya tanda-tanda, seperti
suaranya yang terdengar walaupun tidak kelihatan orangnya, orang arif tidak
hanya melihat tannda-tandanya melalui suara dibalik dinding, lebih jauh dari
itu, ia pun memasuki rumah dan menyaksikan dengan mata kepalanya bahwa si fulan
benar-benar ada di dalam rumah. Ringkasnya, makrifat menurut Al-Ghazali tidak
seperti makrifat orang awam ataupun makrifat ulama, tetapi makrifat sufi yang
dibangun atas dasar dzauq rohani dan kasyf (penarangan) ilahi.
2.
Pandanga
Al-Ghazali tentang Sa’adah (kebahagiaan)
Menurut Al-Ghazali,
kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah swt. Ia
menjelaskan bahwa As-sa’adah itu sesuai dengan ciptaannya, nikmatnya
mata terlihat ketika melihat gambar yang bagus dan indah, nikmatnya telinga
adalah ketika mendengar suara yang merdu. Demikian juga, seluruh anggota tubuh
masing-masing mempunyai kenikmatan sendiri16.
Kenikmatannya qalb
sebagai alat memperoleh makrifat terletak ketika melihat Allah swt. Hal ini
merupakan kenikmatan paling agung yang tiada taranya karena makrifat itu agung
dan mulia. Sebagaimana perasaan dapat bertemu mentri tidak akan lebih bangga
atau senang daripada perasaan dapat bertemu presiden.
Kelezatan dan
kenikmatan dunia bergantung pada nafsu dan akan hilang setelah manusia mati,
sedangkan kelezatan dan kenikmatan melihat Tuhan bergantung pada qolb
dan tidak akan hilang walaupun manusia sudah mati, sebab qolb tidak ikut
mati, bahkan kenikmatannya bertambah karena dapat keluar dari kegelapan menuju
cahaya terang17.
C.
KESIMPULAN
Tasawuf Ahlaki merupakan gabungan antara ilmu tasawuf dan ilmu akhlak.
Akhlak erat hubungannya dengan perilaku dan kegiatan manusia dalam interaksi
sosial pada lingkungan tempat tinggalnya. Jadi, tasawuf akhlaki dapat
terealisasi secara utuh, jika pengetahuan tasawuf dan ibadah kepada Allah swt,
dibuktikan dalam kehidupan sosial.
Tasawuf akhlaki ini juga dikenal
juga tasawuf suni, yaitu bentuk tasawuf yang memegari dirinya dengan
Al-Quran dan As-Sunah secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan
maqamat (tingkatan rohani) mereka pada dua sumber tersebut.
Tokoh sufi yang termasuk tasawuf akhlaki adalah Hasan Al-Bashri (w. 110
H/728 M), Al-Muhasibi (w. 241 H), Al-Qusyairi (w. 405), dan Al-Ghazali (w. 505
H/1111 M).
D.
DAFTAR BACAAN
1.
H.R. Imam Ahmad dan Baihaqi
2.
Ibid
3.
Ibid, halm. 77-78.
4.
Ibid
5.
Ibid, halm. 58.
6.
Ibid, hlm. 58-59
7.
Abu Al-Wafa’ Ghanimi At-Taftazani,
Madkhal Ila At-Tashawwuf Al-Islam, Terj. Ahmad Rofi’ ‘Utsmani, “Sufi dari Zaman
ke Zaman”, bandung:Pustaka, 1985, hlm. 141.
8.
Ibid. , hlm. 142
9.
Ia dipanggil Abu Hamid karena ia
mempunyai anak laki-laki bernama Abu Hamid. Anak ini meninggal dunia semenjak
kecil sebelum wafatnya Al-Ghazali. Lihat Sa’id Basil, Manhaj Al-Ma’rifat ‘Inda
Al-Ghazali, Beirut:Dar Al-Kitab Al-Banani, t.t, hlm. 16.
10. As-Subki,
Thabaqat Asy-Syafi’iyyat Al-Qubra, Juz IV, Mesir: Musthafa Al-Halabi, t,t.,
hlm. 102.
11. Ibid
12. Abd
Halim Mahmud, QadhiyatAt-Tashawwuf Al-munqids min Adh-Dhalala, Kiro:Dar
Al-Ma’arif, 1119 H, hlm. 40.
13. Lihat
M.M Syarif, History of Muslim Philoshopy, Vol. II, Wiesbaden: Otto
Harrasspwitz, 1963, hlm. 583-584.
14. At-Taftazani,
op.cit., hlm. 156
15. Harun
Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Isalam, Jakarta: Bulan Bintang,
1978, hlm. 78.
16. Al-Ghazali,
kimiya As-Sa’adah, Beirut: Al-Maktabah Asy-Syi’biyah, t.t, hlm. 130-132.
17. Ibid.,
hlm. 130
Merit Casino Review 2021 | Claim your Welcome Bonus
BalasHapusWhat is the Merit Casino Welcome Bonus? Read our full review. Learn all about 메리트카지노총판 it, get your welcome bonus, payouts, and more.