Selasa, 13 September 2016

A. Tasawuf Ahlaqi




BAB I

I.     PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Budha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun  pasir Arabia. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari khalayak ramai. Mereka adalah orang yang berhati baik, pemurah dan suka menolong.  
Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, Ruh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. Ruh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Filsafat sufi juga demikian. Ruh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam Ruhani yang suci, tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, Ruh yang telah kotor itu dibersihkan dahulu melalui ibadah yang banyak serta melewati beberapa ujian-ujian dari mulai membersihkan diri dari segala dosa hingga mencapai rida Ilahi.
Dari agama Budha, pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad.
Kita perlu mencatat, agama Hindu dan Budha, filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis.
Hakekat tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebutkan Alquran dan Hadits. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil."
Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia, "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya.” Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri.
Disini, sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut, “Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, dan melalui mereka Aku pun dikenal.”
Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu, dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad, maka hadis terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud, kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.
Demikianlah ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. Dengan khusuk dan banyak beribadah ia akan merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan Ruhnya dengan Ruh Tuhan; dan inilah hakikat tasawuf.
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Tasawuf Ahlaqi?
2.      Tokoh-tokoh Tasawuf Ahlaqi?
3.      Ajaran-ajaran Tasawuf Ahlaqi?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tasawuf Ahlaqi
Tasawuf Ahlaqi ditinjau dari sudut bahasa merupakan bentuk fase atau dalam kaidah bahasa Arab disebut dengan jumlah idhofah. Merupakan gabunga dari dua kata menjadi satu kesatuan makna yang utuh dan menentukan realitas yang khusus. Dua kata tersbut adalah “tasawuf” dan “ahlak”.
Kata “tasawuf”, menurut kaidah ilmu sharaf merupakan bentuk isim masdar, yaitu tasshawwufan, yang berasal dari fi’il tsulasi mazid khumasi, yaitu tasawwafa yang memiliki fungsi untuk membentuk makna lil mutawa’ah atau transitif (kata kerja yang selalu memiliki obyek dalam kalimat) dan lil-musyarokah atau membentuk makna saling. Dengan demikian, arti kata “tasawuf” dalam bahasa arab bisa membersihkan atau saling membershkan. Kata “membersihkan” merupakan kata kerja transitif yang membutuhkan obyek. Obyek dari tasawuf ini adalah ahlak manusia. Kemudian saling membersihkan merupakan kata kerja yang di dalamnya harus terdapat dua subyek yang aktif memberi dan menerima.
Apabila fungsi lil-musyarakah dalam kata “tasawuf”, berarti ketika seorang hamba hidup bertasawuf, pada dasarnya dia telah berbuat sesuatu sesuai dengan Tuhan dan Tuhan membalasnya dengan mengijabah segala keinginannya dari hambanya.
Kemudian, “Ahlak” juga berasal dari bahasa Arab. Kata akhlaq merupakan bentuk jamak dari khuluq yang secara bahasa bermakna perbuatan atau penciptaan. Akan tetapi, dalam konteks agama, akhlak bermakna perangai, budi, tabiat, adab, atau tingkah laku.
Konsepsi ajaran akhlak menurut Islam adalah menuju perbuatan amal saleh, yaitu semua perbuatan yaitu semua pebuatan baik dan terpuji, faedah , dan indah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhiratyang diridoi Allah swt, sedangkan amal saleh adalah inti ajaran Islam yang harus diterapkan untuk melatarbelakangi konsepsi akhlak yang hendak dilakukan oleh manusia.
Secara etimologis, tasawuf akhlaki bermakna membersihkan tingkah laku atau saling membersihkan tingkah laku. Jika konteksnya adalah manusia ini bisa dipandang sebagai sebuah tatanan dasar untuk menjaga akhlak manusia atau dalam bahasa sosialnya molaritas masyarakat.
Oleh karena itu, tasawuf akhlaki merupakan kajian ilmu yang sangat memerlukan praktik untuk menguasainya. Tidak hanya berupa  teori sebagai sebuah pengetahuan, tetapi harus terealisasi dalam rentang waktu kehidupan manusia. Agar mudah menempatkan posisi tasawuf dalam kehidupan bermasyarakat kajian tasawuf pada ilmu tasawuf akhlaki, yang didasarkan pada sabda nabi Muhammad saw :
أنما بعثت لأتمم مكارم لأخلاق
“Sesungguhnya aku telah diutus (dengan tujuan) untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”1
Tasawuf akhlaki merupakan gabungan antara ilmu tasawuf dengan ilmu akhlak. Akhlak erat hubungannya dengan perilaku dan kegiatan manusia dalam interaksi sosial pada lingkungan tempat tinggalnya. Jadi, tasawuf akhlaki dapat terealisasi secara utuh, jika pengetahuan tasawuf dan ibadah kepada Allah swt. Dibuktikan dalam kehidupan sosial.

B.     TOKOH DAN AJARAN-AJARAN TASAWUF AKHLAKI
1.      HASAN AL-BASYRI
a.       Riwayat Hidup
Hasan Al-Basyri, yang nama lengkapnya Abu Sa’id Al-Hasan bin Yasar adalah seorang zahid yang amat masyhur di kalangan tabi’in. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632) dan wafat pada hari Kamis bulan Rajab tanggal 10 tahun 110 H (728).
Dialah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha mensucikan jiwa di Masjid Bashrah. Ajaran-ajarannya tentang kerohanian senantiasa didasarkan pada sunah nabi. Sahabat-sahabat Nabi yang masih hidup pada zaman itu pun mengakui kebesarannya. Bahkan, ketika ada orang datang kepada Anas bin Malik – sahabat nabi yang utama untuk menanyakan persoalan agama, Anas memerintahkan orang agar menghubungi Hasan. Mengenai kelebihan lain Hasan, Abu Qatadah pernah berkata, “Bergurulah kepada syekh ini. Saya sudah saksikan sendiri (keistimewaanya). Tidak ada seseorang tabi’in pun yang menyerupai sahabat Nabi lainnya”
Ia berguru hampir kepada seluruh ulama disana. Bersama ayahnya, ia kemudian pindah ke Basyrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan nama hasan Al-Basyri. Puncak keilmuannyaia peroleh di sana.
Hasan Al-Bashri terkenal dengan keilmuannya yang sangat dalam. Tak heran kalau ia menjadi imam di bashrah secara khusus dan daerah-daerah lainnya secara umum. Disamping dikenal sebagai zahid, ia pun dikenal sebagai seorang yang wara’ dan berani dalam memperjuangkan kebenaran. Diantara karya tulisnya berisi kecaman terhadap aliran kalam Qodariyyah dan tafsir-tafsir Al-Quran.2
b.      Ajaran-ajaran tasawufnya
Abu Na’im Al-Ashbahani telah menyimpulkan pandangan tasawuf Hasan Bashri sebagai berikut, “Sahabat takut (khauf)dan pengharapan (raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan, pandangan tasawuf yang lain adalah anjuran kepada setiap seorang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah swt, dan menjauhi seluruh larangannya.
Lebih jauh lagi, hamka mengemukakan sebagai ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri seperti berikut3.
1.      Perasaan takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik daripada rasa tentram yang menimbulkan perasaan takut.
2.      Dunia adalah negeri tempat beramal. Barang siapa bertemu dunia dengan perasaan benci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya begiru pula sebaliknya.
3.      Tafakur membawa kita pada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat menyebabkan kita untuk tidak mengulanginya lagi
4.      Dunia ini adalah seorang janda tua yang telah membungkuk dan beberapa kali ditinggal suaminya.
5.      Orang yang beriman akan senantiasa berduka cita pada pagi dan sore hari karena berada diantara dua perasaan takut, yaitu takut mengenag dosa yang telah lampaudan takut memikirkan ajal yang masih tinggal serta bahaya yang akan mengancam.
6.      Hendaklah setiap orang sadar akan kematian yang senantiasa mengancam, hari kiamat yang akan menagih janjinya.
7.      Banyak dukacita di dunia memperteguh semangat amal saleh.
Muhammad mustofa, menyatakan bahwa tasawuf Hasan Al-Bashri didasari rasa takut siksa tuhan didalam neraka, akan tetapi setelah di teliti, ternyata bukan perasaan takut terhadap siksaanlah yang mendasari tasawufnya tetapi kebesaran jiwanya akan kekeurangan dan kelalaian dirinya yang mendasari tasawufnya.

2.      Al-Muhasibi : pandangan Tasawufnya
Al-Muhasabi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah swt, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meneladani Rasullallah saw. Tatkala sudah melaksanakan hal-hal tersebut diatas seseorang akan diberi petunjuk oleh Allah swt, berupa penyatuan antara fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasullallah dan lebih mementingkan akhirat daripada dunia.4
a.       Pandangan Al-Muhasibi tentang makrifat
Al-Muhasibi mengatakan bahwa makrifat harus di tempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunah.5
Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan makrifat sebagai berikut.6
1.      Taat. Taat hanyalah wujud kongkrid dari ketakwaan kepada Allah swt, bukan sekedar pengungkapan ungkapan-ungkapankecintaan kepada Allah swt. Diantara implementasi kecintaan kepada Allah swt adalah memenuhi hati dengan sinar. Sinar ini kemudian melimpah pada lidah dan anggota tubuh lainnya
2.      Aktifitas anggota tubuh yang disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap makrifat selanjutnya.
3.      Pada tahap ketiga ini Allah swt menyingkapkan khasanah-khasanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap diatas.
4.      Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dengan fana’ yang menyebabkan baka’.
b.      Pandangan Al-Muhasibi tentang khuf dan raja’
Dalam pandangan Al-Muhasibi, khuf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menepati posisi yang penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Khuf  dan raja’, menurut Al-Muhasibi sapat dilakukan dengan sempurna hanya berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunah. Al-Muhasibi mengatakan bahwa Al-Quran jelas berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan. Raja’ dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal saleh. Tatkala telah melakukan amal slaeh, seorang berhak mengharap pahala dari Allah swt. Inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati sebagaimana digambarkan oleh ayat berikut :

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä z`ƒÉ©9$#ur (#rãy_$yd (#rßyg»y_ur Îû È@Î6y «!$# y7Í´¯»s9'ré& tbqã_ötƒ |MyJômu «!$# 4 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇËÊÑÈ  
 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3.      Al-Qusyairi
a.       Riwayat hidup Al-Qusyairi
Adalah salah seorang tokoh sufi utama dari abad kelima hijriah. Kedudukannya amatlah penting karena karya-karyanya tentang para sufi dan tasawuf aliran Suni pada abad ketiga dan keempat hijriah.
Nama lengkap Al-Qusyairi adalah ‘Abdul Karim binn Hawazin, lahir tahun 376 H di Istawa, kawasan Naishabur, salah satu pusat ilmu pengetahuan dimasanya. Abu ‘Ali Ad-Daqqaq adalah gurunya dia adalah seorang sufi terkenal. Al-Qusyairi adalah pembela paling tangguh aliran Ahlus Sunah wal Jama’ah dalam menentang doktrin aliran-aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah, dan Syi’ah. Karena tindakannya, ia mendapat serangan keras, bahkan dipenjara sebulan lebih atas perintah Taghrul Bek karena hasutan seorang mentrinya seorang yang menganut aliran Mu’tazilah rafidhah. Menurut B. Khalikan, Al-Qusyari adalah seorang yang mampu “mengompromikan syariat dengan hakikat.” Al-Qusyairi wafat tahun 465 H.7
b.      Ajran-ajaran tasawuf Al-Qusyairi
Seandainya karya Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, dikaji secara mendalam, akan tampak jelas upaya Al-Qusyairi cenderung mengembalikan tasawuf ke atas landasan doktrin Ahlus Sunah, sebagaimana pernyataannya,
“Ketahuilah! Para tokoh aliran ini (maksudnya para sufi) membina prinsip-prinsip tasawuf atas landasan tauhid yang benar, sehingga terpeliharalah doktrin mereka dari penyimpangan. Selain itu, mereka lebih dekat dengan tauhid kaum salaf maupun Ahlus Sunah, yang tidak tertandingi serta mengenal macet. Mereka pun tahu hak yang lama, dan bisa mewujudkan sifat sesuatu yang diadakan dari ketiadaannya. Oleh karena itu, tokoh aliran ini, Al-Junaid, mengatakan bahwa tauhid adalah pemisah hal yang lama dengan hal dengan hal yang baru. Landasan doktrin-doktrin mereka pun didasarkan pada dalil dan bukti yang kuat serta gamblang. Hal ini seperti yang dikatakan Abu Muhammad Al-Jariri bahwa barang siapa tidak mendasrkan ilmu tauhid pada slah satu pengokohnya, niscaya membuat tergelincirnya kaki yang tertipu ke dalam jurang kehancuran.”8
Selain itu, Al-Qusyairi pun mengecam parasufi pada masanya karena kegemaran mereka mempergunakan pakaian orang-orang miskin, tetapi tindakan mereka pada saat yang sama bertentangan dengan pakaian mereka. Ia menekankan bahwa kesehatan batin denga berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunah lebih penting daripada pakaian lahiriah.
4.      Al-Ghazali
a.       Biografi singkat Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali. Secara singkat dipanggil Al-Ghazali atau Abu Hamid Al-Ghazali9.
Ayah Al-Ghazali adalah seorang miskin pemintal kain wol yang taat, sangat menyenangi ulama, dan sering aktif menghadiri majlis-majlis pengajian10. Ketika menjelang wafatnya, ayahnya menitipkan Al-Ghazali danadiknya yang bernama Ahmad kepada seorang sufi. Kepada sufi itu dititipkan sedikit harta, seraya berkata dalam wasiatnya,11.
“aku menyesal sekali karena aku tidak belajar menulis, aku berharap untuk mendapatkan apa yang tidak kudapatkan itu melalui dua putraku ini”
Sufi tersebut menjalanka wasiat itu dengan baik dengan cara mengajar keduanya, sampai suatu ketika sufi tersebut kehabisan harta lalu menitipkan ke sebuah madrasah untuk belajar sekaligus menyambung hidupnya12.
Al-Ghazali belajar fiqih kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani. Kemudian memasauki sekolah tinggi Nizhamiyah di Naishabur, dan disinilah ia berguru dengan Imam Haramain hingga menguasai ilmu munthiq, fiqh-ushl, filsafat, tasawuf, dan retorika perdebatan.13
b.      Ajaran Tasawuf Al-Ghazali
Dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Al-Quran dan Sunah Nabi saw, ditambah dengan doktrin Ahlus As-Sunah wa Al-Jama’ah. Ia menjauhkan tasawufnya dari paham ketuhanan Aristoteles, seperti emanasi dan penyatuan sehingga dapat dikatakan bahwa Al-Ghazali benar-benar bercorak islam14.
Menurut Al-Ghazali, jalan menuju tasawuf baru dapat dicapai dengan mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga kalbu dapat lepas dari segala sesuatu yang selain Allah swt. Ia juga berpendapat bahwa sosok sufi adalah yang terbaik, jalan mereka adalah paling benar, dan moral mereka paling bersih. Sebab gerak-gerik mereka, baik lahir maupun batin diambil dari cahaya kenabian.
Al-ghazali menjadikan tasawuf sebagai sarana untuk berolah rasa dan berolah jiwa, sehingga sampai makrifat yang membantu menciptakan (sa’dadah).
1.      Pandangan Al-Ghazali tentang makrifat
Menurut Al-Ghazali, sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution, makrifat adalah menetahui rahasia Allah swt dan mengetahui peraturan-peraturan tuhan tentang segala yang ada15. Alat memperoleh makrifat bersandar pada sir, qolb, dan roh.
Al-Ghazali membedakan  jalan pengetahuan sampai kepada Tuhan bagi orang awam, ulama, dan orang arif (sufi). Untuk itu dia membuat perumpamaan tentang keyakinan bahwa si fulan ada di dalam rumah dirumah. Keyakinan orang awam dibangun atas dasar taqlid, bagi ulama keyakinan adanya si fulan di rumah dibangun atas dasarnya adanya tanda-tanda, seperti suaranya yang terdengar walaupun tidak kelihatan orangnya, orang arif tidak hanya melihat tannda-tandanya melalui suara dibalik dinding, lebih jauh dari itu, ia pun memasuki rumah dan menyaksikan dengan mata kepalanya bahwa si fulan benar-benar ada di dalam rumah. Ringkasnya, makrifat menurut Al-Ghazali tidak seperti makrifat orang awam ataupun makrifat ulama, tetapi makrifat sufi yang dibangun atas dasar dzauq rohani dan kasyf (penarangan) ilahi.
2.      Pandanga Al-Ghazali tentang Sa’adah (kebahagiaan)
Menurut Al-Ghazali, kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah swt. Ia menjelaskan bahwa As-sa’adah itu sesuai dengan ciptaannya, nikmatnya mata terlihat ketika melihat gambar yang bagus dan indah, nikmatnya telinga adalah ketika mendengar suara yang merdu. Demikian juga, seluruh anggota tubuh masing-masing mempunyai kenikmatan sendiri16.
Kenikmatannya qalb sebagai alat memperoleh makrifat terletak ketika melihat Allah swt. Hal ini merupakan kenikmatan paling agung yang tiada taranya karena makrifat itu agung dan mulia. Sebagaimana perasaan dapat bertemu mentri tidak akan lebih bangga atau senang daripada perasaan dapat bertemu presiden.
Kelezatan dan kenikmatan dunia bergantung pada nafsu dan akan hilang setelah manusia mati, sedangkan kelezatan dan kenikmatan melihat Tuhan bergantung pada qolb dan tidak akan hilang walaupun manusia sudah mati, sebab qolb tidak ikut mati, bahkan kenikmatannya bertambah karena dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya terang17.
C.     KESIMPULAN
Tasawuf Ahlaki merupakan gabungan antara ilmu tasawuf dan ilmu akhlak. Akhlak erat hubungannya dengan perilaku dan kegiatan manusia dalam interaksi sosial pada lingkungan tempat tinggalnya. Jadi, tasawuf akhlaki dapat terealisasi secara utuh, jika pengetahuan tasawuf dan ibadah kepada Allah swt, dibuktikan dalam kehidupan sosial.
Tasawuf akhlaki ini juga  dikenal juga tasawuf suni, yaitu bentuk tasawuf yang memegari dirinya dengan Al-Quran dan As-Sunah secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkatan rohani) mereka pada dua sumber tersebut.
Tokoh sufi yang termasuk tasawuf akhlaki adalah Hasan Al-Bashri (w. 110 H/728 M), Al-Muhasibi (w. 241 H), Al-Qusyairi (w. 405), dan Al-Ghazali (w. 505 H/1111 M).



D.    DAFTAR BACAAN
1.      H.R. Imam Ahmad dan Baihaqi
2.      Ibid
3.      Ibid, halm. 77-78.
4.      Ibid
5.      Ibid, halm. 58.
6.      Ibid, hlm. 58-59
7.      Abu Al-Wafa’ Ghanimi At-Taftazani, Madkhal Ila At-Tashawwuf Al-Islam, Terj. Ahmad Rofi’ ‘Utsmani, “Sufi dari Zaman ke Zaman”, bandung:Pustaka, 1985, hlm. 141.
8.      Ibid. , hlm. 142
9.      Ia dipanggil Abu Hamid karena ia mempunyai anak laki-laki bernama Abu Hamid. Anak ini meninggal dunia semenjak kecil sebelum wafatnya Al-Ghazali. Lihat Sa’id Basil, Manhaj Al-Ma’rifat ‘Inda Al-Ghazali, Beirut:Dar Al-Kitab Al-Banani, t.t, hlm. 16.
10.  As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyyat Al-Qubra, Juz IV, Mesir: Musthafa Al-Halabi, t,t., hlm. 102.
11.  Ibid
12.  Abd Halim Mahmud, QadhiyatAt-Tashawwuf Al-munqids min Adh-Dhalala, Kiro:Dar Al-Ma’arif, 1119 H, hlm. 40.
13.  Lihat M.M Syarif, History of Muslim Philoshopy, Vol. II, Wiesbaden: Otto Harrasspwitz, 1963, hlm. 583-584.
14.  At-Taftazani, op.cit., hlm. 156
15.  Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Isalam, Jakarta: Bulan Bintang, 1978, hlm. 78.
16.  Al-Ghazali, kimiya As-Sa’adah, Beirut: Al-Maktabah Asy-Syi’biyah, t.t, hlm. 130-132.
17.  Ibid., hlm. 130






1 komentar:

  1. Merit Casino Review 2021 | Claim your Welcome Bonus
    What is the Merit Casino Welcome Bonus? Read our full review. Learn all about 메리트카지노총판 it, get your welcome bonus, payouts, and more.

    BalasHapus